BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang
Klorofil merupakan
pigmen fotosintesis yang dijumpai dalam kebanyakan tumbuhan, Alga, dan
Cyanobakteria. Klorofil atau pigmen utama tumbuhan banyak dimanfaatkan manusia
untuk membantu mengoptimalkan fungsi metabolik, sistem imunitas, detoksifikasi,
meredakan radang (Inflamotorik) dan
menyeimbangkan sistem hormonal (Limantara, 2007:1).
Klorofil juga
merangsang pembentukan darah karena menyediakan bahan dasar dari pembentuk hemoglobin.
Peran ini disebabkan karena struktur klorofil yang menyerupai struktur
haemoglobin darah. Berbagai penelitian masa kini mengungkapkan mereka yang
biasa mengkonsumsi makanan yang tinggi klorofil kualitas kesehatannya jauh
lebih baik. Sekarang ini telah ada suplemen yang telah beredar yaitu liquid chlorophyll atau chlorophylin yang berbahan dasar ekstrak
klorofil daun alfafa (Medicago sativa L).
Suplemen tersebut sudah banyak diperdagangkan sebagai suplemen siap saji. Studi
secara ekstensif sudah banyak dilakukan terhadap alfafa. Seluruh bagian tanaman
ini mengandung komponen yang bersifat fungsional bagi tubuh, antara lain
saponin, sterol, flavonoid, kuramin, alkanoid, vitamin, asam amino, gula,
protein, mineral, dan komponen gizi lainnya (Setiari dan Nurchayati, 2009:2).
Menurut Najiyati (1998:11), kebanyakan
tanaman mempunyai pertumbuhan yang bagus pada kondisi kapasitas lapang.
Kapasitas lapang adalah keadaan dimana air hanya berada dalam poripori mikro
tanah dan disebut sebagai air tersedia, sedang pori-pori makro tanah ditempati
oleh udara.
Salah satu
respons fisiologis tanaman terhadap kekurangan air adalah penurunan konsentrasi
klorofil daun yang dapat disebabkan oleh pembentukan klorofil dihambat,
penurunan enzim rubisco, dan terhambatnya penyerapan unsur hara, terutama
nitrogen dan magnesium yang berperan penting dalam sintesis klorofil (Song Ai
dan Banyo, 2011:166). Kekurangan air mengakibatkan perubahan di tingkat
molekuler, seluler, fisiologi dan morfologi. Perubahan yang terjadi dapat
berupa pengurangan volume sel, penurunan luas daun, penebalan daun, adanya
rambut pada daun, perubahan ekspresi gen, perubahan metabolisme karbon dan
nitrogen, perubahan produksi dan aktivitas enzim dan hormon, peningkatan
sensitivitas stomata, penurunan laju fotosintesis (Winarno, 1991:19).
Salah satu tanaman yang dapat
digunakan sebagai sumber klorofil adalah selada. Tanama selada (Lactuca sativa L.) termasuk dalam famili Asteraceae yang merupakan tanaman semusim
polimorf (memiliki banyak bentuk), khususnya dalam hal bentuk daunnya. Sebagian
besar tanaman selada dimakan mentah dan merupakan sayuran salad yang populer
karena warna, tekstur dan aromanya yang menyegarkan (Haryanto dkk., 2002:23). Jenis sayuran ini memiliki kandungan air tinggi dan mengandung zat-zat
gizi khususnya vitamin (vitamin A, vitamin B dan vitamin C), serat dan mineral
yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, sementara karbohidrat
dan proteinnya rendah yaitu 2,9 g dan 1,2 g, sehingga tanaman selada merupakan
tanaman yang potensial dikembangkan, karena mudahnya rasa sayuran ini diterima
lidah (Rubatzky dan Yamaghuci, 1998:31).
Adanya manfaat klorofil yang banyak tersebut,
maka diperlukan suatu usaha untuk meningkatkan kandungan klorofil pada tanaman.
Usaha peningkatan kandungan klorofil tersebut salah satunya bisa dilakukan
dengan volume penyiraman yang sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam. Oleh
karena itu perlu diketahui volume penyiraman yang tepat pada suatu tanaman agar
pertumbuhan dan kandungan klorofilnya maksimal (Hendriyani dan Setiari,
2009:149).
Berdasarkan
latar belakang diketahui bahwa kandungan klorofil pada tanaman selada dapat
ditingkatkan dengan volume penyiraman yang tepat. Oleh karena itu perlu
dilakukan peneltian mengenai “Kandungan Klorofil dan Pertumbuhan Tanaman Selada
(Lactuca sativa L.) pada Volume Penyiraman yang Berbeda”.
1.2 Rumusan
masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas,
maka dapat dikemukakan permasalahan yaitu “Bagaimanakah kandungan klorofil dan
pertumbuhan tanaman selada (Lactuca
sativa L.) pada volume penyiraman
yang berbeda?”
1.3
Tujuan penelitian
Berdasarkan uraian rumusan masalah di atas, maka
yang menjadi tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui volume penyiraman
yang tepat untuk tanaman selada (Lactuca
sativa L.) sehingga diperoleh kandungan klorofil dan
pertumbuhan yang maksimal.
1.4 Manfaat
penelitian
Penelitian ini
diharapkan akan memberikan informasi kepada masyarakat pada umumnya dan
khususnya yang bergerak di bidang pertanian, dengan mengetahui volume
penyiraman yang tepat untuk tanaman selada, dapat digunakan sebagai acuan dalam
penyiraman sehingga dapat diperoleh kandungan klorofil dan pertumbuhan yang
maksimal.[1]
1.5
Hipotesis
Hipotesis dalam
penelitian ini adalah terdapat
pengaruh kandungan klorofil dan pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L.) pada volume penyiraman yang berbeda.
1.6 Definisi
Operasional
Untuk menghindari
kesalahpahaman dan penafsiran para pembaca, maka perlu dijelaskan
istilah-istilah pokok yang digunakan dalam penelitian ini. Adapun
istilah-istilah yang akan dijelaskan adalah sebagai berikut:
1.
Kandungan adalah yang terkandung dalam
daun tanaman bayam tersebut.
2.
Klorofil adalah pigmen hijau yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan
(Lakitan, 2008: 114).
3.
Pertumbuhan adalah proses kenaikan volume yang bersifat
irreversible yang disertai pertambahan ukuran berat serta tinggi.
4.
Volume yaitu air yang tersedia untuk
proses penyiraman sesuai dengan jumlah yang telah ditentu.[2]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar